Kamis, 06 Agustus 2015

Amal Pemusnah Kebaikan Bagian 7



Rincian Pintu-Pintu Masuk Setan ke dalam Hati
Setan mempunyai banyak pintu masuk menuju hati. Karena itu, engkau, wahai -orang mukmin, harus menutupnya.
Salah satu pintu utamanya adalah nafsu dan amarah. Amarah adalah perusak akal. Jika bala tentara akal melemah, bala tentara setan akan datang menyerang.
Salah satu pintu utama yang lain adalah iri hati dan tamak. Bilamana seorang hamba berlaku tamak terhadap apa pun, ketamakan itu akan membuatnya buta dan tuli. Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salam pernah bersabda, “Kecintaanmu kepada sesuatu bisa membuatmu buta dan tuli.”
Pintu utama lainnya adalah kenyang, meskipun dari makanan yang halal dan bersih. Sesungguhnya kenyang bisa menguatkan nafsu, padahal nafsu adalah senjata bagi setan. Dikisahkan bahwa iblis menampakkan diri kepada Nabi Yahya bin Zakaria. Lantas Nabi Yahya melihat berbagai macam kail yang dibawa iblis. Beliau lalu bertanya, “Hai Iblis, apa gerangan kail-kail itu?” Iblis menjawab, “Ini adalah ragam nafsu yang kuhantamkan kepada anak-cucu Adam.” Nabi Yahya kembali bertanya, “Lalu adakah salah satu kail itu pada diriku?” Iblis menjelaskan, “Mungkin engkau kekenyangan sehingga membuatmu berat untuk mengerjakan shalat dan berzikir.” Nabi Yahya bertanya lagi, “Adakah yang lain?” Iblis menjawab, “Tidak.” Kemudian Nabi Yahya mengatakan, “Demi Allah, selamanya aku tidak akan lagi memenuhi perutku dengan makanan.” Lalu iblis membalas, “Demi Allah, selamanya aku tidak akan lagi menasihati seorang Muslim.”
Pintu utama yang lain adalah kemewahan dalam perabotan, pakaian, dan rumah. Jika setan melihat kemewahan telah menguasai hati seseorang, ia akan bertelur dan menetas di hati tersebut. Ia akan senantiasa mendorong orang tersebut untuk memperbanyak benda-benda tersebut dan bermewah-mewahan dengannya sehingga usianya berlalu dalam kelalaian dan ia dikejutkan dengan datangnya ajal.
Pintu utama lainnya adalah mengharap pujian manusia. Jika sifat ini sudah menguasai hati seseorang, setan akan senantiasa membuatnya senang untuk bersikap berpura-pura, sok manis, berlaku riya, dan melakukan tipu daya di depan orang yang menjadi objeknya, sehingga objek tadi seakan-akan sudah menjadi sembahannya. Orang yang mencari muka akan senantiasa memikirkan cara untuk membuat objeknya menyukai dirinya. Ia pun akan memuji objeknya dengan ucapan-ucapan manis yang melenakan, menyembunyikan keburukan-keburukannya, tidak menyerunya kepada kebaikan, dan tidak melarangnya dari kemungkaran.
Pintu masuk lainnya yang utama adalah tergesa-gesa dan tidak melakukan verifikasi. Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salambersabda, “Tergesa-gesa berasal dari setan, sedangkan berhati-hati dari Allah Swt.” Sebab, setiap pekerjaan seharusnya dilakukan setelah direncanakan dengan matang. Perencanaan sendiri memerlukan perenungan dan kehati-hatian. Adapun ketergesaan menolak hal tersebut.
Pintu utama lainnya adalah dirham, dinar, dan semua jenis harta benda, baik yang berupa barang, kendaraan, maupun benda tidak bergerak. Setiap harta yang melebihi kebutuhan adalah tempat berdiamnya setan.
Pintu masuk utama lainnya adalah sifat kikir dan takut miskin. Sifat tersebut mencegah seseorang untuk bersedekah dan mendorongnya untuk menimbun. Di antara dampak buruk yang timbul dari sifat kikir adalah kegemaran berada di pasar guna mengumpulkan uang, serta tempat-tempat lain yang di dalamnya terdapat penipuan, kebohongan dan tipu daya.
Salah satu pintu utama yang lain adalah fanatisme terhadap mazhab dan sekte; juga kedengkian dan penghinaan kepada lawan. Itulah sebagian di antara yang menghancurkan hamba-hamba Allah dan orang-orang fasik secara keseluruhan.
Salah satu muslihat setan adalah ia memalingkan manusia dari aib-aib dirinya, dengan berbagai perselisihan dan pertengkaran antar-mazhab. Abdullah bin Mas’ud menuturkan, “Sekelompok orang berkumpul dan berzikir kepada Allah. Lalu setan mendatangi mereka dengan tujuan membuyarkan mereka dari majelis zikir dan membuat mereka bercerai berai. Namun, ia tidak berhasil. Ia kemudian mendatangi kelompok lain yang sedang membicarakan urusan duniawi. Ia pun memecah—belah mereka sehingga mereka bangkit saling membunuh di antara mereka. (Namun, bukan kelompok kedua ini yang menjadi target setan.) Kelompok yang tadinya berzikir kepada Allah lantas sibuk mengurus kelompok kedua dan mendamaikan mereka. Dengan kesibukan itu, kelompok pertama akhirnya membuyarkan diri dari majelis zikir mereka. Itulah tujuan setan terhadap mereka.”
Pintu utama lainnya adalah pintu yang membawa orang-orang awam yang belum mendalami dan menguasai ilmu agama untuk memikirkan zat Allah Swt., sifat-sifat-Nya, dan berbagai hal yang tidak bisa dicapai oleh nalar mereka sehingga mereka ragu terhadap pokok-pokok ajaran agama Islam atau tergambar di pikiran mereka berbagai persepsi tentang Allah yang tidak pantas disematkan kepada-Nya. Dengan demikian, orang-orang yang terjebak pada pintu ini bisa menjadi kafir atau pelaku bid’ah. Namun, mereka senang dan bahagia atas persepsi yang ada di dada mereka, seraya menyangkanya sebagai makrifat. Diriwayatkan dari Aisyah r.a. bahwa Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salam pernah bersabda, “Sesungguhnya setan mendatangi salah seorang di antara kalian, lantas ia bertanya, ‘Siapakah yang menciptakanmu?’ Ia akan menjawab, ‘Allah Yang Mahasuci nan Mahaluhur.’ Setan bertanya lagi, ‘Siapa yang menciptakan Allah?’ Jika salah seorang di antara kalian mendapatkan pertanyaan seperti itu, hendaklah ia menjawab, ‘Aku beriman kepada Allah dan rasul-Nya.‘ Jawaban itu akan mengusir setan tersebut!’ Nabi Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salam tidak memerintahkan umatnya untuk membahas cara mengatasi bisikan setan seperti itu, karena bisikan seperti itu hanya menghinggapi orang-orang awam, bukan para ulama. Sementara itu, kewajiban orang awam hanyalah beriman, berserah diri, dan menyibukkan diri dengan ibadah dan urusan penghidupan.
Di antara pintu-pintu setan yang utama adalah buruk sangka terhadap orang-orang Muslim. Allah Swt. berfirman, Wahai orang-orang yang beriman!Jauhilah sebagian besar prasangka. Sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa (QS Al-Hujurat [49]: 12). Siapa yang menilai buruk orang lain lantaran prasangka, setan mendorongnya untuk memanjangkan lidah dengan menggunjingnya, mengurangi pemenuhan terhadap hak-haknya, atau memandangnya dengan pandangan sebelah mata. Semua itu termasuk perkara-perkara yang mencelakakan.
Selain itu, syariat Islam juga melarang kita memosisikan diri pada kondisi yang bisa menimbulkan tuduhan orang lain. Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salambersabda, “Takutlah kalian (hindarilah) terhadap tempat-tempatyang bisa menjadikan kalian tertuduh.”
Suatu ketika Rasulullah berjalan bersama Ummul Mukminin Shafiyah r.a., mengantarnya pulang ke rumahnya. Lalu mereka berpapasan dengan dua orang Anshar. Rasulullah lantas menjelaskan kepada mereka, “Dia Shafiyah binti Huyai.” Mereka lalu mengatakan, “Ya Rasulullah, kami hanya berprasangka baik kepadamu.” Lalu Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya setan masuk ke diri anak-cucu Adam melalui aliran darah di dalam tubuhnya. Sungguh, aku khawatir setan akan masuk ke diri kalian.” Lihatlah bagaimana Rasulullah perduli dan menjaga agama dua orang sahabatnya. Lihatlah bagaimana beliau menyayangi umatnya dengan mengajarkan kepada mereka cara menjaga diri dari tuduhan orang. Meskipun seseorang sangat tinggi kezuhudan, ketakwaan, dan keilmuannya, sesungguhnya mata manusia tidak sama dalam menilainya. Ada yang menilainya dengan pandangan kasih sayang dan ada pula yang menilainya dengan pandangan kebencian. Karena itu, sebuah syair mengatakan:
  • Mata kasih terhadap setiap aib adalah lemah.
  • Tetapi mata kebencian menampakkan semua keburukan.
  • Maka, sudah seharusnya kita menjaga diri dari berburuk sangka dan tuduhan dari orang-orang yang tidak baik.
  • Jika sudah buruk perbuatan seseorang, buruk pula prasangka-prasangkanya dan ia memercayai tuduhan-tuduhan atas perbuatan yang ia sudah terbiasa dengannya.
Pintu-pintu masuk setan ini harus ditutup, hati harus dibersihkan dari sifat-sifat yang tercela dengan memperbanyak zikir dan berserah diri kepada Allah, dan kita harus menuntut ilmu dan menjalin hubungan dengan orang-orang yang bertakwa.

Sumber : Amal Pemusnah Kebaikan Ringkasan Bab Mukhlikat Ihya ‘Ulum al-Din karya Al Habib Umar bin Hafidz

Amal Pemusnah Kebaikan Bagian 6



Kewajiban untuk Menghindari Cengkeraman Setan terhadap Hati dan Menutup Pintu-Pintu Masuknya
Ketahuilah bahwa hati bagaikan bangunan berbentuk kubah yang memiliki beberapa pintu, di mana berbagai orang bisa masuk ke bangunan itu melalui pintu-pintu itu. Hati juga bisa diumpamakan seperti suatu objek yang menjadi target dari anak panah yang datang kepadanya dari segala arah. Pintu-pintu masuk berbagai pengaruh yang datang silih berganti ke dalam hati, adakalanya berupa sesuatu yang konkret, seperti pancaindra; dan kadangkala berupa sesuatu yang abstrak, seperti imajinasi [khayal], nafsu, amarah, dan akhlak-akhlak yang terbentuk dari tabiat dasar seseorang.
Pengaruh paling pentingyang masuk ke hati adalah bersit-hati atau bisikan-hati (khawathir), yaitu sesuatu yang mewujud di hati berupa pikiran dan ingatan. Sesuatu yang mewujud di hati tersebut adakalanya berupa pengetahuan terbarui dan adakalanya pengetahuan lama yang terpendam. Dinamakan bersit-hati karena ia tebersit atau terlintas di hati setelah terlupakan.
Awal dari segala perbuatan adalah bersit-hati (lintasan hati). Bersit-hati kemudian menggerakkan keinginan; keinginan lantas menggerakkan kemauan; kemauan kemudian menggerakkan niat; dan niat lantas menggerakkan anggota badan.
Bersit-hati dibagi menjadi dua. Ada yang mengajak kepada kejahatan dan berdampak buruk; dan ada yang menyeru kepada kebaikan dan bermanfaat untuk kehidupan di dunia dan akhirat. Dua jenis bersit-hati tersebut berbeda. Bersit-hati yang terpuji dinamakan ilham (bisikan malaikat), sedangkan yang tercela disebut waswas (bisikan setan). Perbe-daan berbagai kejadian disebabkan oleh perbedaan sebab-sebabnya.
Penyebab bersit-hati yang menyeru kepada kebaikan dinamakan malaikat, sementara penyebab bersit-hati yang mengajak kepada keburukan disebut setan. Adapun kelembutan yang membuat hati siap untuk menerima ilham dinamakan taufiq, sedangkan kelembutan yang membuat hati siap untuk menerima waswas dari setan disebut ighwa’ (penipuan) dan khidzlan (penyesatan).
Malaikat adalah makhluk ciptaan Allah yang bertugas untuk melimpahkan kebaikan dan ilmu, menyingkap hakikat dan kebenaran, menjanjikan kebaikan, dan memerintahkan kepada kebaikan. Allah menciptakan dan menundukkannya untuk mengemban tugas-tugas seperti itu. Adapun setan adalah ciptaan Allah yang mempunyai peran yang bertolak belakang dengan peran malaikat, yaitu menjanjikan keburukan, memerintahkan kepada kejahatan, serta menakut-nakuti orang yang hendak berbuat kebaikan, misalnya dengan kemiskinan.
Jadi, waswas adalah kebalikan dari ilham, setan adalah lawan dari malaikat, dan taufiq adalah kebalikan dari ighwa’ dan khidzlan. Allah Swt. berfirman, Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan (QS Al-Dzariyat [51]: 49).
 Jadi, segala yang wujud saling berkebalikan, kecuali Allah Swt. Sesungguhnya Allah itu esa tanpa kebalikan, tetapi Dia Maha Esa, Maha benar, Pencipta semua yang berpasangan.
Di dalam hati terjadi tarik-menarik antara setan dan malaikat. Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salam pernah bersabda, “Didalam hati terdapatduasentuhan. Sentuhan dari malaikat merupakan janji kebaikan dan pembenaran terhadap kebenaran. Maka barang siapa mendapat sentuhan itu, ketahuilah bahwa itu datang dari Allah Yang Mahasuci, dan ucapkan puji syukur kepada-Nya. Sentuhan dari musuh (yaitu setan) merupakan janji keburukan, pendustaan terhadap kebenaran, dan larangan terhadap kebaikan. Maka barang siapa mendapatkan sentuhan (jahat) tersebut, hendaknya ia memohon perlindungan kepada Allah dari setan.” Kemudian Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salam membaca firman Allah Swt., “Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kemiskinan kepadamu dan menyuruh kamu berbuat keji (kikir), sedangkan Allah menjanjikan ampunan dan karunia-Nya kepadamu.
 Dan Allah Mahaluas lagi Maha Mengetahui’.’ Terkait dengan tarik-menarik hati oleh dua kekuatan ini, terdapat hadis yang menyatakan, “Hati orang mukmin berada di antara dua jari di antara jari-jariZat Yang Maha Penyayang nan Mahaluhur!’ Terkait dengan firman Allah Swt., (Aku berlindung kepada Allah) dari kejahatan (bisikan) setan yang tersembunyi (QS Al-Nas [114]: 4). Mujahid mengatakan, “Setan membentangkan tangannya kepada hati. Jika hati berzikir kepada Allah, setan meringkuk dan bersembunyi. Tetapi jika hati lalai, setan membentangkan tangannya menguasai hati. Mengenai tarik ulur tersebut, Allah Swt. berfirman, Setan telah menguasai mereka, lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah (QS Al-Mujadilah [58]: 19). Ibnu Wadhdhah menyatakan terkait dengan sebuah hadis yang dilansirnya, “Jika seseorang telah mencapai usia 40 tahun, tetapi belum bertobat, setan mengusapkan tangannya ke wajah orang tersebut.” Ia menambahkan, “Demi ayahku, itulah wajah orang yang tidak beruntung.” Dengan demikian, sudah jelas kiranya makna waswas, ilham, malaikat, setan, taufiq, dan khidzlan.
Maka, sudah seharusnya hamba Allah memperhatikan setiap bersit yang terlintas di hatinya agar ia tahu apakah itu berasal dari sentuhan malaikat atau setan. Ia pun hendaknya memperhatikan hal tersebut dengan mata batin, cahaya ketakwaan, dan naluri ilmu, bukan dengan hawa nafsu. Sebagaimana firman Allah Swt., Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa apabila mereka dibayang-bayangi pikiran jahat dari setan, mereka pun segera ingat. Maksudnya, mereka segera berpaling kepada cahaya ilmu. Maka ketika itu juga mereka bisa melihat (QS Al-A’raf [7]: 201). Maksudnya, tersingkap bagi mereka segala kesulitan. Adapun orang yang tidak menempa dirinya dengan ketakwaan sehingga hatinya cenderung mematuhi tipu daya setan dan menuruti hawa nafsu, ia banyak melakukan kesalahan dan mempercepat kehancuran dirinya, tetapi ia tidak merasa.

Sumber: Amal Pemusnah Kebaikan Ringkasan Bab Mukhlikat Ihya ‘Ulum al-Din karya Al Habib Umar bin Hafidz

Amal Pemusnah Kebaikan Bagian 5



Tujuan dari menyucikan hati adalah munculnya cahaya iman di dalamnya. Allah Swt. pun berfirman, Barang siapa dikehendaki Allah akan mendapat hidayah (petunjuk), Dia akan melapangkan dadanya untuk (menerima) Islam (QS Al-An’am [6]: 125).
Firman-Nya yang lain menyatakan, Apakah orang yang dibukakan hatinya oleh Allah untuk (menerima) agama Islam lalu dia mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang hatinya membatu)? (QS Al-Zumar [39]: 22 ).
Bersinarnya hati dan keimanan mempunyai tiga tingkatan sebagai berikut.
  • Pada tingkatan pertama adalah keimanan orang-orang awam, yang masih dalam tataran taklid murni.
  • Tingkatan kedua adalah keimanan para ahli kalam (mutakal-limin), yang bercampur dengan berbagai macam pembuktian.
  • Tingkatan ketiga adalah keimanan orang-orang arif (‘arifin), yang didapat melalui penyaksian dengan nurul-yaqin.
Sebagai perumpamaan, bilamana engkau membenarkan bahwa Zaid ada di rumah, keyakinanmu mempunyai tiga tingkatan.
Pertama, seseorang yang telah engkau uji kejujurannya dan engkau tidak pernah mengetahuinya berdusta, mengabarkan kepadamu ihwal keberadaan Zaid di rumah. Kemudian hatimu merasa tenang dan percaya terhadap berita tersebut Inilah yang dinamakan taklid murni, sebagai perumpamaan keimanan orang-orang awam.
Kedua, engkau mendengar sendiri suara dan ucapan Zaid dari dalam rumah, tetapi di balik dinding. Hal itu membuatmu menyimpulkan bahwa Zaid ada di dalam rumah. Dengan demikian, keimanan dan pembenaranmu lebih kuat daripada keimanan dan pembenaran yang hanya berdasarkan pada perkataan orang lain.
Ketiga, engkau masuk ke rumah, lalu melihat dan menyaksikan Zaid dengan mata kepalamu sendiri. Inilah pengetahuan dan keimanan yang hakiki dan persaksian yang meyakinkan. Ini menyerupai pengetahuan orang-orang yang dekat dengan Allah {muqarrabin) dan senantiasa percaya [shiddiqin) karena mereka beriman kepada Allah setelah menyaksikan sendiri [musyahadah).
Oleh karena itu, persiapkan dirimu dengan menyucikan hati, memperbanyak berzikir, dan menutup pintu-pintu masuk setan ke dalam hati. Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salam bersabda, “Mufarridun telah mendahului.” “Siapakah mufarridun itu, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Orang-orang yang banyak berzikir kepada Allah, laki-laki maupun perempuan.” Dalam riwayat yang berbeda, “Orang-orang yang senantiasa memperbanyak zikir kepada Allah.”
Allah Swt. berfirman, Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh untuk (mencari keridhaan) Kami, akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami (QS Al-Ankabut [29]: 69).
Jadi, setiap hikmah yang muncul dari hati dengan cara tekun beribadah, tanpa belajar, maka sumbernya adalah ilham. Allah Swt. pun berfirman, Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia buatkan jalan keluar baginya (QS Al-Thalaq [65]: 2).
Maksudnya, jalan keluar dari kesulitan-kesulitan dan perkara-perkara syubhat. Allah menambahkan,… dan memberinya rezeki dari jalan yang tak disangka-sangkanya (QS Al-Thalaq [65]: 3).
Maksudnya, mengajarkan ilmu kepadanya tanpa harus belajar dan mencoba-coba (bereksperimen). Firman-Nya yang lain menyatakan,
Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan furqan (kemampuan membedakan antara yang hak dan yang batil) kepadamu (QS Al-Anfal [8]: 29).
 Ada yang menafsirkan, furqdn adalah cahaya (nur) yang membuat seseorang bisa membedakan kebenaran dari kebatilan, sehingga ia bisa lepas dari perkara-perkara syubhat.
Dalam doa-doanya, Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salam banyak memohon diberi cahaya. Beliau pernah berdoa, “Ya Allah, berikan cahaya kepadaku. Tambahkan cahaya kepadaku. Buatkan cahaya di hatiku, cahaya di kuburku, cahaya di pendengaranku, cahaya di penglihatanku … di rambutku, di kulitku, di dalam dagingku, di dalam darahku, dan di dalam tulang-tulangku.” Doa ini sebagaimana dilansir dalam Shahjh al-Bukhori dan Shohih Muslim, hadis dari Ibnu Abbas r.a. Ali r.a. mengatakan, “Tidak ada satu pun yang diberikan Rasulullah kepada kami (ahlul bayt) secara sembunyi-sembunyi, kecuali bahwa Allah Swt. memberikan kepada seorang hamba-Nya pemahaman terhadap kitab-Nya.” Pemahaman yang dimaksud dalam hadis ini tidak diperoleh melalui belajar. Allah Swt. berfirman, Dia memberikan hikmah kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya (QS Al-Baqarah [2]: 269). Ada yang menafsirkan bahwa hikmah adalah pemahaman terhadap Al-Quran.
Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salam bersabda, “Takutlah kalian terhadap firasat orang mukmin karena sesungguhnya ia melihat dengan cahaya dari Allah Swt!’ Hasan meriwayatkan dari Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salam bahwa beliau bersabda, “Ilmu ada dua. Ilmu batin ada di dalam hati dan itulah ilmu yang bermanfaat. Lalu ada ilmu di lisan, sebagai hujjah Allah terhadap para makhluk-Nya”
 Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dari Abu Hurairah dan oleh Muslim dari Aisyah bahwa Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salam pernah bersabda, “Sungguh, pada umat-umat sebelum kalian terdapat orang yang senantiasa benar firasatnya. Kalaupun ada salah seorang dari mereka pada umatku, dia adalah Umar.”

Sumber: Amal Pemusnah Kebaikan Ringkasan Bab Mukhlikat Ihya ‘Ulum al-Din karya Al Habib Umar bin Hafidz

Amal Pemusnah Kebaikan Bagian 4



Perumpamaan Hati Jika Dihubungkan dengan Ilmu Pengetahuan
Cermin tidak bisa menampilkan gambar dari suatu objek dikarenakan lima hal. Pertama, karena kerusakan pada bentuknya. Misalnya, bijih besi sebelum dibentuk dan dipoles. Kedua, karena cermin tertutup oleh kotoran, karat dan debu. Ketiga, karena cermin dipalingkan dari arah keberadaan objek. Keempat, karena adanya penghalang di antara cermin dan objek. Kelima, karena cermin tidak tahu arah di mana objek itu berada.
Hati pun demikian, seperti cermin. Hakikat dari segala sesuatu  tidak bisa tampak di hati disebabkan lima hal. Pertama, karena adanya kekurangan pada hati itu sendiri. Misalnya, hati anak kecil, yang tidak bisa mencerap beberapa jenis pengetahuan karena belum sempurna.
Kedua, hati tertutup oleh kotoran yang bertumpuk akibat banyak melakukan kemaksiatan dan menuruti nafsu. Maka, kepatuhan kepada Allah dan berpaling dari tuntutan nafsu adalah satu-satunya cara untuk membuat hati menjadi bersih. Allah Swt. berfirman, Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami, QS Al-Ankabut (29): 69.
 Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salam pun bersabda, “Siapa yang mengamalkan apa yang diketahuinya, Allah akan mewariskan kepadanya ilmu yang belum diketahuinya!’
Ketiga, melenceng dari arah hakikat yang dicari. Karena itu, meskipun bersih, hati orang saleh pun tidak bisa melihat hakikat dengan jelas jika ia memang tidak hendak mencari hakikat itu dan tidak menghadap padanya. Barangkali seseorang mencurahkan segenap perhatiannya terhadap berbagai amal ibadah jasmani maupun sumber-sumber penghidupannya, tetapi ia mengabaikan keberadaan sifat-sifat rabbani dan hakikat-hakikat Ilahi yang tersamar. Maka yang akan tampak kepadanya hanyalah apa yang ia pikirkan, yaitu hal-hal yang dapat merusak amal, keburukan jiwa yang tersembunyi, dan keuntungan duniawi belaka.
Keempat, adanya hijab atau penghalang. Seseorang yang taat, mampu mengendalikan nafsunya, dan mencurahkan segenap perhatiannya hanya pada hakikat, terkadang tidak tersingkap baginya hakikat tersebut. Sebabnya, ia terhalang oleh keyakinan yang telah tertanam dalam dirinya sejak kecil melalui doktrin. Sebab ini pula yang membuat sebagian besar para ahli kalam dan orang-orang yang bermazhab secara fanatik terhalang dari hakikat. Bahkan sebagian besar orang-orang saleh pun terhalang oleh keyakinan-keyakinan yang didoktrinkan hingga melekat di hati mereka.
Kelima, tidak tahu arah yang benar untuk mencapai hakikat yang ingin dicari. Seorang pencari ilmu tidak mungkin bisa memperoleh suatu ilmu yang tidak diketahuinya, kecuali dengan mengingat pengetahuan-pengetahuan yang sesuai dengan ilmu yang ingin diperolehnya. Sebab, ilmu yang ingin diperolehnya itu bukan ilmu yang bersifat fitrah, ia tidak bisa diperoleh kecuali melalui jaringan ilmu-ilmu yang sudah dia peroleh sebelumnya. Bahkan, ilmu tersebut hanya bisa dihasilkan dengan menggabungkan dua pengetahuan yang selaras dan dikombinasikan sedemikian rupa.
Dengan demikian, ketidaktahuan terhadap pengetahuan-pengetahuan yang selaras dan cara mengombinasikannya adalah penghalang untuk memperoleh ilmu. Contohnya, cermin yang tidak tahu arah di mana objek berada, sebagaimana yang telah saya sebutkan. Contoh lain, ada seseorang ingin melihat bagian belakang kepalanya dengan cermin. Jika ia meletakkan cermin di depan wajahnya, berarti cermin tidak menghadap bagian belakang kepala, sehingga bagian belakang kepala tidak tampak. Jika ia menaruh cermin di sisi belakang kepala dan menghadap bagian belakang kepala, berarti ia menyimpangkan cermin dari pandangan matanya, sehingga ia tidak bisa melihat cermin. Oleh sebab itu, ia memerlukan cermin kedua untuk diletakkan di belakang kepala, sementara cermin yang pertama diletakk’an di depan matanya. Dengan begitu terjadi kombinasi antara kedua cermin. Objek bagian belakang dipantulkan oleh cermin kedua, lalu gambar objek pada cermin kedua dipantulkan oleh cermin yang berada di depan mata. Mata kemudian bisa melihat objek bagian belakang kepala. Begitu juga yang terjadi dalam proses pencarian ilmu, tetapi prosesnya lebih hebat daripada contoh yang telah saya sebutkan, karena adanya unsur pemalsuan dan penyimpangan.
Itulah sebab-sebab yang menghalangi hati untuk mengetahui hakikat. Kalau tidak ada penghalang-penghalang itu, niscaya semua hati secara alamiah bisa mengetahui hakikat karena hati merupakan pemberian Tuhan, mulia, dan siap untuk mengemban amanat. Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salam bersabda, “Setiap anak yang lahir dilahirkan dalam keadaan fitrah (suci). Kedua orangtuanyalah yang membuatnya menjadi pemeluk Yahudi, Nasrani, maupun Majusi” Ath-Thabrani meriwayatkan dari Abu Atabah Al-Khaulani dan menisbatkannya kepada Nabi Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salam, bahwa beliau Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salam pernah bersabda, “Sesungguhnya Allah memiliki bejana-bejana dari para penghuni bumi. Bejana-bejana Tuhanmu tersebut adalah hati hamba-hamba-Nya yang saleh.” Sebuah hadis menyebutkan bahwa Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salam pernah ditanya, “Ya Rasulullah, siapakah orang yang paling baik?” Beliau menjawab,
“Setiap mukmin yang hatinya makhmum’.’ Penanya bertanya lagi, “Apakah hati yang makhmum itu?” “Beliau menjelaskan, “Hati yang bertakwa dan bersih, yaitu hati yang di dalamnya tidak ada tipu daya, ketidakadilan, penghianatan, maupun iri hati.”
Semua bentuk ketaatan dan amal kebajikan hanyalah dimaksudkan untuk membersihkan, menyucikan, dan membuat hati menjadi bersinar. Allah Swt. berfirman, Sungguh beruntung orang yang menyucikannya (hati) (QS Al-Syams [91]: 9).

Sumber: Amal Pemusnah Kebaikan Ringkasan Bab Mukhlikat Ihya ‘Ulum al-Din karya Al Habib Umar bin Hafidz

Amal Pemusnah Kebaikan Bagian 3



Ringkasan Sifat-Sifat Hati
Manusia secara fitrah mempunyai empat elemen sifat di dalam dirinya, yaitu binatang buas, hewan ternak, setan, dan rabbani. Jika manusia dikuasai sifat amarah, ia mengambil sikap laksana binatang buas, seperti memusuhi, membenci, memukul, dan menghujat. Jika dikuasai nafsu, ia mengambil sikap menyerupai hewan ternak, seperti rakus dan tamak. Jika pada diri manusia terdapat sifat-sifat rabbani, sebagaimana difirmankan Allah, Katakanlah, ruh itu termasuk urusan
Tuhanku (QS Al-Isra’ [17]: 85). Ia pun mendaku sifat-sifat ketuhanan pada dirinya; menginginkan berkuasa, diagungkan, diistimewakan, dan menjadi penguasa tunggal; melepaskan diri dari ketundukan dan kerendahan diri; dan menyukai upaya untuk mendapatkan ilmu. Meskipun manusia berbeda dan lebih baik daripada hewan ternak karena mempunyai penalaran, yaitu kemampuan untuk membedakan yang baik dari yang buruk, bergabungnya amarah dan nafsu pada dirinya akan memunculkan sifat-sifat setan. Maka dengan sifat setan itu, ia pun menggunakan penalarannya untuk menciptakan berbagai bentuk keburukan dan mencapai berbagai tujuan dengan kelicikan, kecurangan, dan penipuan, serta menampakkan keburukan dalam rupa kebajikan. Itulah perilaku setan.
Seakan-akan di bawah kulit manusia terkumpul hal-hal berikut; babi sebagai nafsu, anjing sebagai amarah, setan yang menggelorakan nafsu babi dan amarah binatang buas, dan kebijaksanaan sebagai wujud dari nalar. Nalar diperintahkan untuk menolak tipu daya setan dengan cara membongkar penyamarannya, mematahkan nafsu babi dengan mempergunakan anjing untuk menguasainya, dan melawan kebuasan anjing dengan dengan memperalat babi untuk menundukkannya. Jika manusia kuasa melakukan hal ini, selamatlah ia, dan ia telah berada di atas jalan yang lurus. Namun, jika ia tidak kuasa mengekang dan menguasai babi dan anjing, merekalah yang akan memperalatnya. Jika sudah diperalat, manusia akan terus-menerus berpikir untuk mengenyangkan babi dan menyenangkan anjing sehingga ia senantiasa menjadi hamba keduanya.
Inilah kondisi sebagian besar umat manusia. Sungguh mengherankan, jika ada orang yang mencela para penyembah berhala karena mereka menyembah batu. Padahal jika tirai yang menutupi hati dan hakikat dirinya dibukakan baginya, tahulah ia bahwa sesungguhnya ia berdiri tegak di depan babi, kadang bersujud kepadanya, dan kadang membungkuk, seraya menunggu petunjuk dan perintahnya. Atau ia akan melihat dirinya berdiri tegak di depan anjing buas, menyembahnya, menaatinya, dan patuh mendengarkan petuahnya. Inilah puncak kezaliman.
Kemudian, dengan menuruti nafsu babi akan muncul sifat tidak punya rasa malu, gemar berbuat buruk, berlebih-lebihan, pelit, pamer, suka mengumbar nafsu, suka melakukan sesuatu yang tiada berguna, tamak, rakus, iri, dengki, suka mencaci maki, dan sebagainya.
Dengan mematuhi amarah anjing akan lahir sifat lancang, sembrono, membuka aib, rasa sombong, tinggi hati, mudah marah, takabur, ujub, suka menghina, suka meremehkan, suka mencela sesama makhluk, suka membuat onar dan kezaliman, dan sebagainya.
Adapun ketaatan kepada setan, yaitu dengan menuruti kehendak nafsu dan amarah, akan memunculkan sifat licik, curang, tipu daya, sembrono, kepalsuan, suka menipu, dan sebagainya.
Sebaliknya, jika manusia bisa membalikkan keadaan tersebut dan menundukkan mereka di bawah kuasa elemen rabbani, niscaya pada hatinya akan bersemayam sifat-sifat rabbani, seperti keilmuan, kebijaksanaan, keyakinan, berpandangan holistik, mengetahui segala sesuatu sesuai hakikatnya, dan menguasai segala sesuatu dengan kekuatan ilmu dan mata batin. Ia pun lebih berhak untuk memimpin daripada makhluk-makhluk yang lain karena kesempurnaan ilmunya. Selain itu, ia tidak akan memerlukan lagi ketundukan kepada nafsu dan amarah.
Bilamana seseorang telah menundukkan elemen nafsu babi dan mengembalikannya pada keseimbangan, pada dirinya akan mewujud sifat-sifat mulia, seperti kesucian diri, qanaah, ketenangan, zuhud, warak, takwa, lapang dada, malu, kecerdasan batin, dan ringan tangan. Sementara itu, dengan mendisiplinkan elemen binatang buas atau amarah dan mengembalikannya pada tempat yang seharusnya, akan lahir sifat keberanian, kemurahan, kesatria, disiplin diri, kesabaran, keuletan, ketegaran, pemaaf, keteguhan hati, kemuliaan, kehormatan diri, ketenangan, dan sebagainya.
Dengan demikian, hati laksana cermin yang dikelilingi dan dipengaruhi oleh empat elemen tersebut. Pengaruh itu sampai pada hati secara terus-menerus tak terhentikan. Pengaruh yang baik akan membuat cermin semakin terang, bercahaya, dan bersinar. Adapun pengaruh yang buruk bagaikan asap gelap yang naik menyelimuti cermin hati dan lama-kelamaan membuatnya menjadi hitam dan suram, tersegel dan tertutup. Allah Swt. berfirman, Sekali-kali tidak! Bahkan apa yang mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka, QS Al-Muthaffifin (83): 14.
Sumber: Amal Pemusnah Kebaikan Ringkasan Bab Mukhlikat Ihya ‘Ulum al-Din karya Al Habib Umar bin Hafidz

Amal Pemusnah Kebaikan Bagian 2



Bala Tentara Hati
Hati mempunyai bala tentara yang bisa dikelompokkan menjadi tiga pasukan.
Pasukan pertama adalah pasukan pendorong dan penyemangat, baik untuk mendatangkan manfaat yang diinginkan—sebagaimana yang dilakukan oleh prajurit yang bernama nafsu [syahwah]—maupun untuk menolak bahaya yang merusak—sebagaimana yang dilakukan oleh prajurit yang bernama amarah [ghadhab). Pasukan penyemangat ini dinamakan kehendak (iraddah).
Pasukan kedua adalah penggerak anggota badan untuk mewujudkan apa yang diinginkan pasukan kehendak. Pasukan ini dinamakan   kekuatan {qudrah).
Pasukan ketiga bertugas untuk mencerap dan mengetahui berbagai hal, laksana mata-mata. Mereka adalah indra penglihat, pendengar, pencium, perasa, dan peraba. Pasukan ini dinamakan ilmu dan pencerapan (indrak).
Keistimewaan Hati Manusia
Karena keistimewaannya, hati manusia memperoleh kemuliaan dan kedudukan yang tinggi serta kelayakan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Keistimewaan ini dikarenakan ilmu dan kehendak yang dimilikinya.
Yang dimaksud dengan ilmu adalah pengetahuan mengenai berbagai hal yang bersifat duniawi maupun ukhrawi dan berbagai hakikat yang bersifat rasional. Pengetahuan ini bersifat metafisik, tidak kasatmata, dan tidak dimiliki oleh bangsa hewan.
Mengenai kehendak [iradah), jika seseorang melalui bantuan nalarnya mengetahui dampak dari suatu perbuatan dan jalan untuk meraih kemaslahatannya, akan muncul dari dalam dirinya suatu hasrat untuk meraih kemaslahatan tersebut serta hasrat untuk menempuh jalan kemaslahatan tersebut. Kehendak di sini berbeda dari kehendak nafsu dan kehendakyang dimiliki bangsa hewan. Bahkan ia berlawanan dengan tabiat nafsu itu sendiri. Contohnya, nafsu berkehendak meng-hindari operasi pembedahan, tetapi nalar justru menghendakinya.
Jadi, hati manusia diberi keistimewaan berupa ilmu dan kehendak, dua hal yang tidak dimiliki oleh bangsa hewan. Bahkan seorang anak kecil pada masa-masa awal pertumbuhannya pun belum memiliki kedua hal tersebut. Keduanya baru dimiliki anak sesudah mencapai usia baligh.
Dalam memperoleh ilmu dan kehendak, seorang manusia memiliki dua tahapan:
Pertama, jiwa seorang yang sudah dipenuhi dengan pengetahuan-pengetahuan aksiomatik tingkat dasar [‘ulum dharuriyyah awwaliy-yah), seperti pengetahuan bahwa segala sesuatu yang mustahil tidak mungkin terjadi dan bahwa segala sesuatu yang mungkin terjadi bisa terjadi dan bisa juga tidak terjadi. Maka pada tahap ini, seseorang belum memperoleh ilmu pengetahuan teoretis-spekulatif, tetapi hal tersebut bukan termasuk perkara yang mustahil. la seperti seorang anak yang baru mengerti tinta, pena, dan huruf-huruf tunggal (bukan berangkai) dalam dunia penulisan; maka dalam kondisi ini, ia sudah dekat dengan kemampuan menulis, tetapi belum menguasainya.
Kedua, seseorang memperoleh ilmu melalui pengalaman dan perenungan. Maka ilmu tersebut bagaikan simpanan baginya, yang bisa ia ambil kapan saja ia mau.
Para pemilik ilmu pada tahap kedua ini mempunyai tingkatan-tingkatan yang tak terbatas. Perbedaan tingkatan mereka antara lain ditentukan oleh banyak-sedikitnya ilmu mereka, kemuliaan dan kehinaan ilmu mereka, dan cara mendapatkannya. Karena sebagian orang mendapatkan ilmu melalui ilham dari Allah, sementara yang lain memperolehnya dengan belajar dan bersusah payah. Ada orang yang mendapatkan ilmu dengan cepat dan ada yang lambat. Jadi, tingkatan perolehan ilmu sangat banyak dan tak terbatas. Tingkatan tertinggi adalah tingkatan nabi, yang mana semua atau sebagian besar hakikat pengetahuan disingkapkan kepadanya tanpa harus belajar dan bersusah payah, tetapi melalui ilham Ilahi yang berlangsung sangat cepat.
Ilmu yang paling mulia adalah ilmu tentang Allah, sifat-sifat-Nya, dan perbuatan-perbuatan-Nya. Dengan ilmu itu manusia mencapai kesempurnaan. Dengan kesempurnaan itu ia akan mendapatkan kebahagiaan dan kebaikan di sisi Allah yang Maha Agung nan Sempurna. Tubuh manusia diciptakan sebagai kendaraan bagi jiwa, jiwa sebagai habitat bagi ilmu, dan ilmu menjadi tujuan dan keistimewaan manusia, yang karenanya ia diciptakan. Manusia berada pada kedudukan di antara hewan dan malaikat. Dari sisi bahwa ia makan dan berkembang biak, manusia adalah sejenis tumbuhan. Dari sisi bahwa ia bisa merasakan dengan indra dan bergerak, ia adalah sejenis binatang. Dilihat dari rupa dan bentuknya, manusia seperti lukisan yang dipahat di dinding. Namun, satu-satunya keistimewaan manusia adalah ia bisa mengetahui hakikat dari berbagai hal.
Barang siapa menggunakan semua anggota tubuh dan kekuatannya untuk mendapatkan ilmu dan beramal, sungguh ia telah menyerupai malaikat. Namun, barang siapa memalingkan perhatiannya terhadap berbagai kesenangan ragawi dan menurutinya, dan ia makan seperti makannya binatang maka ia telah jatuh ke dalam golongan hewan.
Adalah mungkin bagi manusia untuk menggunakan setiap anggota tubuh untuk sampai kepada Allah. Siapa yang menggunakannya untuk sampai kepada Allah, ia beruntung. Dan siapa yang menggunakannya untuk selain itu, sungguh ia telah merugi dan malang. Puncak kebahagiaan adalah jika seseorang menjadikan pertemuan dengan Allah sebagai tujuan, akhirat sebagai rumah tinggal, dunia sebagai rumah singgah, badan sebagai kendaraan, dan anggota badan sebagai alat bantu.
Sayyidina Ali—semoga Allah merindhai dan memuliakannya— memberikan perumpamaan menarik mengenai hati. Ia mengatakan, “Sesungguhnya Allah mempunyai bejana-bejana di bumi, yaitu hati. Maka hati yang paling Dia sukai adalah yang paling lembut, paling jernih, dan paling kokoh.” Kemudian Sayyidina Ali menjelaskan, “Yaitu yang paling kokoh dalam agamanya, paling jernih keyakinannya, dan paling lembut kepada saudaranya sesama Muslim.” Penjelasan ini merujuk pada firman Allah Swt, (Orang-orang yang bersama Nabi) bersikap tegas kepada orang-orang kafir dan penuh kasih kepada sesama mereka (QS Al-Fath [48]: 29). Juga merujuk pada firman-Nya, “(Perumpamaan cahaya-Nya) seperti sebuah lubang yang tidak tembus
yang di dalamnya ada pelita besar” (QS Al-Nuur [24]: 35). Ubai bin Ka’ab r.a. mengatakan bahwa itu merupakan perumpamaan bagi cahaya orang mukmin dan hatinya. Juga merujuk pada firman Allah, (Keadaan orang-orang kafir) seperti pekatnya kegelapan di lautan yang dalam.
(QS An-Nur [24]: 40). Ini merupakan perumpamaan bagi hati orang munafik. Zaid bin Aslam mengatakan bahwa yang dimaksud dengan firman Allah,”… di Lauhul Mahfuzh,” adalah hati orang mukmin. Sahal At-Tustari mengatakan, “Perumpamaan hati dan dada adalah laksana Arasy dan Kursi.” Jadi, inilah perumpamaan-perumpamaan bagi hati manusia.
 Sumber: Amal Pemusnah Kebaikan Ringkasan Bab Mukhlikat Ihya ‘Ulum al-Din karya Al Habib Umar bin Hafidz

Amal Pemusnah Kebaikan Bagian 1



1Keajaiban – Keajaiban Hati
Bismillahirrahmanirrahim
Segala puji  bagi Allah, yang melihat segala rahasia sanubari dan mengetahui segala yang dipendam hati. Shalawat serta salam semoga dilimpahkan kepada Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salam, pemimpin para rasul dan pengumpul ajaran-ajaran agama-agama yang berserakan, dan juga kepada keluarganya yang bersih nan suci.
Kemuliaan dan keutamaan manusia terletak pada kesiapannya untuk mengenal Allah Swt. (makrifat). Pengetahuan tersebut di dunia merupakan suatu keindahan, kesempurnaan, dan kebanggaan. Adapun di akhirat, ia adalah bekal dan simpanan untuk menghadapi hari pembalasan. Manusia bisa bersiap diri untuk mengenal Allah hanya dengan hatinya. Hati merupakan media untuk mengenal Allah, mendekat kepada-Nya, beramal untuk-Nya, dan bergerak menggapai-Nya. Hatilah yang akan disingkapkan berbagai rahasia (kasyaf) dari sisi-Nya. Adapun segenap anggota badan hanyalah pengikut, pembantu, dan alat bagi hati.egala puji bagi Allah, yang melihat segala rahasia sanubari dan mengetahui segala yang dipendam hati. Shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Nabi Muhammad, pemimpin para rasul dan pengumpul ajaran-ajaran agama yang berserakan, dan juga kepada keluarganya yang bersih nan suci.
Hati [qalb), jiwa {nafs), ruh [ruh), dan akal [‘aql) mempunyai satu makna yang sama, yaitu suatu substansi lembut, tidak kasatmata (lathifah), yang bersifat rabbani dan ruhani, yang merupakan esensi manusia dan media baginya untuk mengenal dan mengetahui. Substansi yang bisa mengenal dan mengetahui pada diri manusia ini, kadang dinamakan hati, ruh, akal, dan kadang pula jiwa.
Namun, kata hati kadang dimaksudkan untuk menyebut daging berbentuk semacam kerucut yang terletak di sisi kiri dada manusia. Hati dengan makna ini (baca: jantung) juga terdapat pada tubuh hewan dan ia berasal dari alam malakut dan syahadah.
Kata jiwa pun kadang dimaksudkan untuk menyebut suatu konsep yang mencakup semua potensi amarah dan nafsu yang ada pada diri manusia. Kata ruh juga kadang dimaksudkan untuk menyebut suatu substansi lembut yang bersumber dari rongga jantung lalu menyebar ke segenap organ tubuh melalui jaringan pembuluh darah.
Demikian pula kata akal, terkadang dimaksudkan untuk menyebut pengetahuan mengenai hakikat segala hal. Namun, jika yang dimaksud dengan akal adalah media untuk mencerap berbagai pengetahuan, itu adalah hati. Dengan demikian, empat kata tersebut mempunyai satu makna yang sama [musytarak), yaitu suatu substansi lembut, tidak kasatmata, yang bersifat rabbani dan ruhani, yang merupakan esensi manusia dan media baginya untuk mencerap dan mengetahui.
Sumber: Amal Pemusnah Kebaikan Ringkasan Bab Mukhlikat Ihya ‘Ulum al-Din karya Al Habib Umar bin Hafidz